5 Mitos Seputar Diabetes Yang Perlu Diluruskan

25631358668_725ccb4d9d
Photo Credit: Matt Tirrell Flickr via Compfightcc

Awas, jangan sering makan manis, nanti kena diabetes! Anda mungkin sering mendengar anjuran seperti ini. Diabetes, yang sering disebut penyakit gula atau penyakit kencing manis, adalah jenis penyakit yang banyak diketahui orang. Namun, dari tahun ke tahun jumlah penderita diabetes malah semakin bertambah.

Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan adanya peningkatan prevalensi diabetes melitus dari 1,1% pada 2007 menjadi 2,1% pada 2013. Rendahnya pemahaman seputar diabetes membuat masyarakat cenderung mudah percaya pada mitos yang beredar di sekitar, sehingga lebih rentan terkena diabetes. Apa saja mitos dan fakta seputar diabetes yang sering beredar? Coba baca beberapa di antaranya:

Mitos 1: Camilan dan minuman manis bisa bikin Anda terkena diabetes

Pada diabetes tipe 1, organ pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin akibat adanya gangguan autoimun di dalam tubuh. Sementara diabetes tipe 2 umumnya muncul apabila berat badan Anda berlebihan, terbiasa menyantap makanan berkalori tinggi hingga melebihi total asupan yang dianjurkan. Nah, makanan dan minuman manis termasuk jenis yang berkalori tinggi.

Jadi, gula bukanlah penyebab langsung terjadinya diabetes tipe 2, melainkan kebiasaan makan Anda

Bila kini Anda menderita diabetes tipe 2, sebenarnya boleh-boleh makan manis, tapi tidak berlebihan. Pilih makanan dan minuman yang rasa manisnya alami, seperti buah-buahan.

Mitos 2: Orang kurus tidak mungkin kena diabetes

Diabetes tipe 2 umum diderita oleh mereka yang overweight. Biasanya, diabetes muncul setelah seseorang mengalami kegemukan dalam kurun waktu tertentu.

Namun, bukan berarti yang kurus boleh lega, sebab penderita diabetes, terutama tipe 1, umumnya bisa mengalami penurunan berat badan sebelum terdiagnosis diabetes.

Menurut riset dari University of Utah College of Healt, ada penyebab lain kenapa orang kurus bisa terkena diabetes, sementara orang gemuk mungkin saja tidak.

Hasil riset yang dimuat di jurnal Cell Metabolism ini menyebutkan, akumulasi sejenis metabolit lipid beracun yang disebut seramida terhadap pengolahan gizi, reaksi terhadap insulin, dan pembakaran kalori dalam tubuh. Para ahli menduga, sebagian orang cenderung mengubah kalori menjadi seramida, sehingga lebih berpotensi mengalami diabetes.

Riset ini sekaligus menjawab mengapa beberapa negara di Asia punya angka diabetes yang tinggi, sementara angka obesitasnya cenderung lebih rendah dibandingkan negara barat.

Mitos 3: Diabetes itu penyakit keturunan

Peluang menderita diabetes tipe 1 atau 2 memang lebih besar apabila ada anggota keluarga yang mengidap penyakit ini.

Faktor genetik punya peranan penting dalam munculnya diabetes, namun di masa modern ini, diabetes tipe 2 lebih banyak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup

Misalnya saja, gaya hidup yang kurang sehat, tidak banyak berolahraga atau menjalani aktivitas fisik, serta paparan stres yang berlebihan.

Mitos 4: Diabetes bisa disembuhkan dengan minum obat

Ketika Anda sudah terdiagnosis diabetes, dokter akan memberikan resep sejumlah obat-obatan untuk dikonsumsi.

Tujuan pemberian obat bukan untuk menyembuhkan diabetes melainkan menurunkan kadar gula darah

Diabetes tidak bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan. Caranya? Hiduplah lebih sehat. Bagi penderita diabetes tipe 1 yang harus membutuhkan terapi insulin, jalani terapi ini dengan disiplin sehingga kadar gula darah terkendali dan komplikasi di kemudian hari bisa dicegah. Sementara jika Anda belum terkena diabetes, terapkan gaya hidup sehat dengan konsisten agar diabetes tidak menghampiri.

Mitos 5: Diabetes penyakit yang mematikan

Pada awalnya, diabetes sering tidak terdeteksi karena penderitanya tidak mengalami gejala-gejala berarti. Sejalan dengan waktu, perkembangan diabetes membuat Anda berpotensi mengalami sejumlah komplikasi penyakit lainnya karena tingginya kadar gula darah berpengaruh terhadap organ-organ utama di dalam tubuh, seperti jantung, saraf, mata, dan ginjal.

Diabetes sebenarnya tidak tepat disebut penyakit melainkan kondisi yang bisa menyebabkan munculnya risiko penyakit lain dalam tubuh

Jika kondisi kadar gula darah tidak terkendali, Anda bisa sewaktu-waktu mengalami serangan jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kebutaan dan amputasi organ kaki. Sementara bila kadar gula darah terjaga hingga batas normal, Anda bisa menjalani hidup yang berkualitas.

Advertisements

Gaya Hidup Sehat, Diabetes Enggan Mendekat

39291398132_3f541c40bc
Photo Credit: carlinhosmoveis Flickr via Compfightcc

Banyak orang beranggapan hidup sehat itu sulit dilakukan. Padahal, sebenarnya hidup sehat itu bisa dimulai dengan mengubah satu per satu kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Mulai dari kebiasaan makan, tidur, hingga aktivitas fisik. Perubahan-perubahan kecil yang kita jalani setiap hari demi hidup lebih sehat ini akan membantu kita mencegah berbagai penyakit kronis. Atau, jika selama ini Anda telah hidup dengan gangguan penyakit tertentu, seperti diabetes milsanya, pola hidup sehat dapat membantu Anda mengendalikan gangguan ini.

Perubahan apa saja yang bisa kita lakukan? Coba lakukan 6 langkah berikut:

1. Pilih Makanan Dengan Cermat

Tidak ada diet untuk mencegah diabetes. Yang bisa Anda lakukan adalah memilih jenis makanan yang sehat, seperti buah-buahan, ikan yang kaya Omega-3, serta sayuran berwarna hijau tua yang kaya manfaat.

Tidak perlu berhenti mengonsumsi karbohidrat, namun pilih jenis karbohidrat yang diproses lebih lambat di dalam tubuh, seperti gandum utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian

Kabar gembiranya, Anda tidak perlu stop makan telur. Sebab, riset dari University of Copenhagen yang dimuat di European Journal of Clinical Nutrition pada 2017 tidak berhasil menemukan kaitan konsisten antara konsumsi telur dengan risiko diabetes tipe 2. Penelitian yang dilakukan selama tujuh tahun ini memperlihatkan, konsumsi telur pada orang yang sehat dan pengidap diabetes tipe 2 tidak meningkatkan risiko terbentuknya kalsium dalam arteri koroner. Jadi, kata ahli, konsumsi 2 butir telur sehari masih aman untuk kesehatan.

2. Turunkan Berat Badan

Orang yang bisa menurunkan berat badan dan mempertahankannya dalam jangka panjang ternyata dapat terjauh dari diabetes, demikian menurut studi dari Newcastle University yang dimuat di Diabetes Care.

Menurunkan berat badan dapat membantu mengendalikan diabetes tipe 2, bahkan ketika Anda sudah menderita selama bertahun-tahun

Usaha menurunkan berat badan bisa dilakukan sedikit demi sedikit. Sebab, karena penurunan sedikit pun dapat lambat-laun membantu memperbaiki respons tubuh terhadap insulin, menurunkan kadar gula darah, serta memperbaiki tekanan darah.

3. Tidur Yang Cukup

Kebanyakan dan kekurangan tidur dapat berpengaruh terhadap nafsu makan dan keinginan menyantap makanan berkarbohidrat tinggi.

Pola tidur yang buruk bisa membuat berat badan melonjak tajam sehingga risiko komplikasi akibat diabetes pun meningkat

Studi di Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism mengungkap, pria yang waktu tidurnya kurang dan lebih dari 7 jam sehari cenderung punya kadar gula darah yang tinggi. Sementara wanita yang waktu tidurnya kurang dan lebih dari 7 jam ternyata lebih responsif terhadap hormon insulin. Kesimpulannya, kekurangan tidur pada wanita tidak membuatnya lebih berisiko mengalami diabetes.

4. Aktif Bergerak

Apakah Anda termasuk orang yang tidak bisa diam? Ternyata, ini bisa membuat Anda lebih terlindungi dari diabetes dibandingkan jika Anda lebih banyak duduk.

Bila aktivitas fisik yang cukup tinggi dipadukan dengan terapi diabetes, hasilnya akan lebih efektif dalam memperbaiki kadar gula darah

Riset di Journal of the American Medical Association menganjurkan penderita diabetes rutin berolahraga antara 30-60 menit, sebanyak 5-6 kali seminggu. Bila tidak hobi berolahraga, tidak perlu merasa terbebani. Anda bisa mulai dari berbagai aktivitas fisik yang menyenangkan, seperti berjalan, bersepeda, atau menari. Aktivitas ini bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, merendahkan level kolesterol jahat dan tekanan darah, serta membantu menurunkan berat badan.

5. Hindari Stres

Riset dari Jerman yang dimuat di jurnal Psychosomatic Medicine menyebutkan, stres yang dialami di tempat kerja bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 45%.

Tekanan di tempat kerja bisa membuat orang mengalami depresi, sementara orang yang menderita depresi berpeluang 17% mengalami diabetes tipe 2

Ironisnya, para penderita diabetes sebenarnya sudah rentan terhadap depresi. Data menyebutkan, penderita diabetes berisiko 29% lebih besar mengalami depresi dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes. Sementara itu, risiko depresi bisa meningkat hingga 53% bagi penderita diabetes yang bergantung pada insulin.

Ada banyak cara menghindari stres, seperti mendengarkan musik, meditasi, atau ikut latihan yoga. Kehadiran seseorang yang bisa diajak bicara, baik keluarga, teman, ataupun ahli, bisa membantu Anda mengatasi stres dan depresi.

6. Pantau Kondisi Secara Berkala

Penderita diabetes sebaiknya menjaga kesehatan, dengan melakukan pemeriksaan rutin dan memonitor kadar gula darah.

Menurut riset, penderita diabetes yang tidak bergantung pada insulin tidak wajib memantau kadar gula darah setiap hari

Riset yang dimuat di JAMA Internal Medicine juga menyebutkan, Anda yang tergantung pada injeksi insulin adalah kelompok yang harus terus memantau kadar gula darah dan rajin berkonsultasi ke dokter.

Selain itu, lakukan juga pemeriksaan kesehatan umum dan mata setiap tahun, dan ke dokter gigi dua kali setahun. Dengan begitu, kemungkinan komplikasi bisa dideteksi sejak dini. Di luar itu, jika perlu ke dokter karena jatuh sakit, jangan lupa informasikan pihak medis bahwa Anda penderita diabetes.

Diabetes Punya Banyak Gejala, Tapi 5 Gejala Ini Hanya Dialami Wanita

17410834939_69f5d56428
Photo Credit: cfdtfep Flickr via Compfightcc

Gangguan diabetes bisa dialami siapa saja dan pada usia berapa saja. Namun, diabetes tipe 2 termasuk jenis diabetes yang lebih umum dialami oleh orang-orang yang berusia di atas 45 tahun.

Menurut ahli, ada tiga gejala utama diabetes, yaitu poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (sering makan)

Ketiga gejala diabetes ini dapat muncul secara bersamaan. Misalnya, meningkatnya gejala sering haus (polidipsia) biasanya disertai dengan meningkatnya frekuensi buang air kecil (poliuria).

Gejala diabetes biasanya disertai juga dengan sejumlah faktor risiko yang bisa dialami baik oleh kaum pria maupun wanita. Mulai dari kondisi berat badan berlebihan atau obesitas, tekanan darah dan kadar kolesterol yang tinggi, punya riwayat gula darah tinggi, di dalam keluarga ada yang mengidap diabetes, serta jarang berolahraga atau melakukan aktivitas fisik.

Namun, ada juga sejumlah gejala khas yang hanya dialami oleh wanita penderita diabetes. Bila tidak mendapatkan penanganan yang serius, gejala ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang wanita penderita diabetes.

1. Kadar Gula Darah Lebih Sulit Dikendalikan

Sebuah studi jangka panjang selama 1971-2000 menemukan bahwa angka kematian pria akibat diabetes cenderung menurun, namun tidak bagi kaum wanita. Salah satu faktor penyebab tingginya angka diabetes pada wanita adalah karena wanita yang terkena diabetes cenderung sulit mengendalikan kadar gula darahnya.

Dibandingkan kaum pria, wanita dengan diabetes cenderung lebih sulit mengendalikan kadar gula darahnya, sehingga lebih mudah mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi

Kesulitan mengendalikan kadar gula darah dapat juga diakibatkan wanita kurang mendapatkan akses informasi serta layanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi penyakitnya. Adanya edukasi yang lengkap seputar diabetes bagi kaum wanita bisa membantu mereka mencegah diabetes maupun menjalani hidup berkualitas dengan kondisi diabetes.

2. Mengalami Disfungsi Seksual

Gangguan disfungsi seksual pada wanita akibat diabetes membuatnya dapat mengalami masalah ketika berhubungan intim dengan pasangannya. Sekitar 35% wanita penderita diabetes mengalami gangguan seksual, seperti vagina yang kering, rasa nyeri ketika berhubungan, hingga menurunnya dorongan seksual.

Studi pada 2012 menemukan, hanya 80% dari wanita diabetes pengguna insulin yang bisa mencapai orgasme saat berhubungan intim, dibandingkan wanita yang tidak menderita diabetes

Penelitian yang dimuat di Iranian Journal of Medical Science (2015) memaparkan, 65% wanita penderita diabetes yang mengalami disfungsi seksual cenderung terkena depresi, sementara 95,8% mengalami gejala kecemasan. Berdasarkan studi ini, disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara depresi dengan gangguan disfungsi seksual yang dialami wanita penderita diabetes.

3. Sering Terkena Infeksi Jamur

Wanita penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi jamur. Menurut American Diabetes Association, glukosa dalam darah memicu perkembangan jamur di dalam tubuh. Akibatnya, wanita lebih berisiko terkena infeksi di area vagina.

Kondisi kadar gula darah yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko infeksi jamur, baik itu di area vagina maupun di saluran kemih

Itu sebabnya, wanita penderita diabetes disarankan untuk menjaga kadar gula darahnya. Selain itu, biasakan juga untuk menjaga kebersihan area intim, misalnya dengan membasuhnya dengan air setiap kali selesai buang air kecil.

4. Menderita PCOS

PCOS atau polycystic ovary syndrome (sindrom ovarium polikistik) adalah gangguan keseimbangan kadar hormon yang diawali dengan keluhan seperti haid tidak teratur, banyak berjerawat, penipisan rambut kepala, dan pertumbuhan rambut berlebihan di area wajah dan tubuh.

Sekitar separuh wanita penderita PCOS mengalami diabetes. Ini dikarenakan salah satu faktor penyebab PCOS adalah produksi insulin yang berlebihan dalam tubuh—yang juga merupakan salah satu gejala diabetes

 Banyak wanita tidak menyadari dirinya menderita PCOS, padahal gangguan ini bisa menyebabkan infertilitas atau sulit memiliki anak. Ketika penderita PCOS akhirnya bisa hamil, risikonya mengalami diabetes gestasional juga meningkat. Risiko diabetes ini bisa terus menetap hingga ia melahirkan.

5. Mengalami Depresi

Wanita lebih rentan mengalami depresi dibandingkan pria, sementara stres merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya komplikasi akibat diabetes. Itulah sebabnya, wanita lebih berisiko terhadap diabetes daripada pria.

Studi pada 2006 menemukan, kombinasi diabetes dan depresi lebih banyak ditemukan pada wanita. Wanita dengan diabetes berisiko dua kali lebih besar mengalami depresi dibandingkan pria

Sementara itu, studi yang dimuat di Endocrine Reviews menyebutkan, depresi dapat mempengaruhi gaya hidup, pola makan, serta aktivitas fisik penderitanya. Buruknya gaya hidup dan pola makan serta rendahnya aktivitas fisik ini pada akhirnya bisa memicu munculnya gangguan diabetes dan obesitas.

4 Kebiasaan Ini Bisa Mempengaruhi Risiko Diabetes Anda

37763876675_5aa959d93f
Photo Credit: Bitter-Sweet- Flickr via Compfightcc

Ingin hidup sehat dan terjauh dari diabetes? Atau Anda sudah terkena diabetes namun ingin memperbaiki pola hidup sehingga bisa hidup lebih sehat dan berkualitas? Percayakah Anda bahwa semua ini bisa dilakukan hanya dengan mengubah kebiasaan sehari-hari?

Lalu, kebiasaan apa yang perlu Anda ubah sehingga bisa menurunkan risiko diabetes? Jawabannya adalah kebiasaan yang berhubungan dengan kegiatan makan. Nah, berikut ini beberapa kebiasaan yang perlu Anda ubah agar bisa menurunkan risiko diabetes:

1. Coba pola makan vegetarian

Pola makan yang menjauhi bahan makanan yang berasal dari daging hewani ini ternyata bisa efektif membantu menurunkan berat badan.

Jika berat badan seimbang, risiko Anda menderita diabetes otomatis akan menurun

Sebuah hasil penelitian yang dimuat di Journal of the American College of Nutrition menyebutkan, jika Anda mengubah pola makan mengikuti diet vegetarian, berat badan akan bisa turun dengan lebih efektif.

Pola diet ini dianggap lebih baik dibandingkan diet rendah kalori yang umumnya dianjurkan bagi penderita diabetes. Tidak hanya itu, pola makan sayur-sayuran ini juga bisa memperbaiki metabolisme tubuh dengan cara menurunkan lemak otot.

2. Ubah cara memasak di rumah

Seperti apa menu yang sering Anda makan di rumah? Ternyata jenis masakan yang kita makan setiap hari bisa membantu mencegah diabetes.

Menu makanan berkuah atau kukus bisa membantu mengendalikan kadar insulin pada penderita diabetes

Hasil studi di jurnal Diabetologia memaparkan, orang yang berbadan obesitas dan mengalami gejala gangguan insulin sebaiknya menghindari menu makanan yang dipanggang, digoreng, atau dibakar.

Jenis makanan tersebut bisa berpengaruh buruk terhadap produksi insulin dalam tubuhnya, sehingga risiko diabetes semakin tinggi. Sebaiknya, masaklah hidangan dengan cara direbus atau dikukus.

3. Makan di rumah bersama keluarga

Alasan sibuk bekerja sering membuat banyak orang memilih makan di luar atau membeli dan membawanya pulang ketimbang memasak sendiri di rumah. Padahal, kebiasaan ini bisa membuat kita lebih rentan terkena berbagai gangguan penyakit, termasuk diabetes.

Makanan rumah jauh lebih sehat ketimbang makan di luar. Semakin sering kita makan bersama keluarga di rumah, semakin rendah risiko terkena diabetes tipe 2.

Menurut American Heart Association, orang yang makan dua kali di rumah, baik itu makan siang atau makan malam, berisiko 13% lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Jika risiko diabetes sudah turun, otomatis Anda pun terhindar dari penyakit jantung.

4. Jangan lewatkan sarapan

Nah, kebiasaan yang satu ini juga sering dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Sesibuk apa pun, Anda sebaiknya selalu menyempatkan diri untuk sarapan.

Melewatkan sarapan bisa membuat kadar gula darah penderita diabetes melonjak tak terkendali

Para penderita diabetes sangat dianjurkan untuk tidak lupa sarapan, meskipun mereka nantinya berusaha untuk tidak makan berlebihan saat makan siang atau makan malam, demikian menurut hasil riset yang dimuat di jurnal Diabetes Care.

Jangan sampai usaha untuk hidup lebih sehat yang dilakukan begitu lama jadi berantakan hanya karena Anda lupa sarapan satu hari saja.

Minuman Untuk Diabetes

36622433756_4d63b7d177.jpg
Photo Credit: NuCastiel Flickr via Compfightcc

Cermat dalam memilih makanan dan minuman sebenarnya bukan hanya perlu diperhatikan oleh mereka yang terkena diabetes, melainkan juga yang saat ini dalam kondisi sehat. Sebab, apa yang kita makan dan minum setiap hari dapat menentukan kondisi kesehatan di masa depan.

Lembaga kesehatan American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan para penderita diabetes untuk mengonsumsi minuman yang rendah kalori atau bebas kalori. Tujuannya? Supaya kadar gula darah tidak meningkat tajam. Selain itu, pilihan minuman yang sehat bisa membantu Anda mengendalikan diabetes dan menjaga berat badan.

Kalau kita lihat, di luar ada begitu banyak jenis minuman yang sering dibilang orang baik untuk kesehatan. Namun, apakah minuman tersebut juga baik untuk penderita diabetes? Simak apa kata riset untuk beberapa jenis minuman di bawah.

1. Jus buah

Jus buah-buahan sering dianjurkan untuk kesehatan karena mengandung banyak vitamin. Minum segelas jus buah di pagi hari membuat badan terasa lebih segar dan siap beraktivitas.

Tapi jika Anda menderita diabetes, ternyata lebih baik makan buah utuh daripada minum jus

Makan buah-buahan utuh, terutama jenis buah seperti bluberi, anggur, dan apel, menurut studi dari Harvard School of Public Health bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2. Sementara sebaliknya, konsumsi jus buah dianggap dapat meningkatkan risiko Anda.

2. Minuman bersoda

Jenis minuman ini sering jadi sorotan para ahli kesehatan karena berdampak buruk bagi kesehatan, terutama diabetes.

Tingginya kandungan gula dalam minuman soda bisa membuat Anda berisiko terkena prediabetes

Minum sekaleng soda sehari saja bisa membuat Anda berisiko 46% lebih besar terkena prediabetes, demikian menurut ahli dari Tufts University, Boston, Amerika Serikat. Kondisi ini bisa dibilang merupakan “tanda bahaya”, yang jika tidak dipedulikan bisa membuat Anda terkena diabetes.

3. Teh hitam dan hijau

Banyak orang lebih memilih minum teh hijau ketimbang teh hitam untuk menjaga kesehatan. Untuk pencegahan diabetes, ternyata kedua jenis teh ini memiliki manfaat yang sama baiknya.

Baik teh hitam dan hijau dapat memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga bisa mencegah dan mengendalikan diabetes

Seperti teh hijau, teh hitam juga ternyata bisa membantu menurunkan berat badan. Penelitian dari University of California, Los Angeles menyebutkan, kedua jenis teh ini sama-sama mengandung antioksidan yang disebut polifenol.

Bila manfaat teh hijau ini didapat melalui penyerapan dalam darah dan jaringan tubuh, kandungan senyawa dalam teh hitam justru bekerja melalui bakteri pencernaan. Kesimpulannya, mengonsumsi kedua jenis teh ini sama-sama baik untuk kesehatan dan penurunan berat badan.

 4. Kopi

Banyak orang pro dan kontra seputar manfaat kopi bagi kesehatan. Tapi para ahli sepakat, minum kopi dalam porsi wajar bisa membantu mencegah sejumlah gangguan penyakit, termasuk diabetes tipe 2.

Tidak hanya bisa menunda munculnya gangguan diabetes tipe 2, kebiasaan minum kopi bisa memperbaiki produksi hormon insulin

Penelitian dari Denmark menemukan adanya kandungan cafestol di dalam kopi yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah serta menekan produksi hormon insulin secara berlebihan.

4 Cara Agar Anda Lebih Banyak Bergerak

35726414222_69ea802de6.jpg
Photo Credit: b_a_y_d_e_m_i_r Flickr via Compfightcc

Di zaman modern seperti sekarang ini, semakin sedikit orang yang masih aktif bergerak dalam kesehariannya. Bagaimana tidak, hidup kita sudah semakin mudah dengan berbagai kemajuan teknologi. Tidak heran bila kita sering tidak sadar berapa banyak waktu yang dihabiskan setiap harinya dengan duduk nyaman di sofa.

Bukan hanya berolahraga, aktivitas fisik sederhana yang sering kita lakukan di rumah ternyata bisa membantu mencegah berbagai gangguan penyakit, salah satunya diabetes. Apalagi, riset memaparkan bahwa orang yang sering berlama-lama duduk cenderung lebih rentan mengalami resistensi insulin dan peradangan kronis.

Semakin lama waktu yang Anda habiskan untuk duduk-duduk, semakin tinggi risiko Anda mengalami diabetes

Untuk mencegah dan mengendalikan diabetes, sebenarnya ada banyak cara agar Anda bisa lebih banyak bergerak. Ayo, simak empat di antaranya di bawah ini:

1. Matikan Televisi

Tahukah Anda, semakin lama di depan televisi semakin tinggi risiko mengalami diabetes tipe 2?

Setiap dua jam yang Anda habiskan untuk menonton TV bisa meningkatkan risiko menderita diabetes sebesar 20%

Orang yang memiliki masalah berat badan berlebih atau obesitas cenderung lebih sering menonton televisi. Selain itu, hobi menonton televisi juga sering dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat.

Riset yang dimuat di Journal of American Medical Association juga memaparkan, semakin rajin kita bergerak, otot-otot di dalam tubuh akan bekerja lebih keras sehingga kemampuannya untuk menggunakan insulin dan menyerap glukosa pun meningkat.

2. Berjalan-jalan di Luar

Anda tidak perlu berolahraga berjam-jam sampai keringat membanjir supaya bisa terhindar dari diabetes.

Riset menyebutkan, berjalan cepat di luar selama 30 menit sehari saja sudah bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2 hingga 30%

Riset di Journal of American Medical Association memaparkan, kebiasaan berjalan kaki efektif untuk menurunkan angka diabetes pada kaum wanita. Sementara jurnal Circulation menambahkan, aktivitas fisik pada kaum pria juga dapat menurunkan risiko gangguan kardiovaskular. Lamanya waktu yang dihabiskan serta kecepatan saat berjalan kaki adalah dua hal yang mempengaruhi turunnya risiko gangguan penyakit ini.

3. Latihan Yoga

Latian olah tubuh yang bersumber pada kelenturan dan stabilitas tubuh, serta pernapasan yang teratur ini ternyata bisa memberi dampak positif bagi semua orang, termasuk bagi penderita diabetes atau mereka yang ingin mencegah diabetes.

Latihan yoga tidak hanya bisa menurunkan stres pada penderita diabetes yang mengalami kondisi hiperglikemia, namun juga mengendalikan kadar gula dalam darah

Journal of Clinical and Diagnostic Research menyebutkan, manajemen stres merupakan salah satu faktor kunci dalam mengatasi diabetes. Sebab, ketika stres kadar gula darah kita cenderung meningkat, sehingga risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung pun bisa naik drastis.

4. Coba Tai-chi

Seni olah tubuh asal China ini terkenal bisa menenangkan pikiran dan melenturkan tubuh. Gerakannya yang cenderung lambat menjadikan olah tubuh ini digemari oleh kaum lanjut usia. Namun, bukan berarti mereka yang masih muda lantas tidak boleh mencoba.

Melakukan senam tai-chi secara teratur bisa membantu menjaga kadar gula dalam darah, sekaligus membuat para penderita diabetes tetap bugar

Penelitian yang dilakukan oleh ahli dari University of Florida mendapati, tai-chi memberi dampak serupa seperti ketika Anda melakukan latihan aerobik. Hanya saja, latihan tai-chi sifatnya lebih low impact atau minim entakan, sehingga lebih bersahabat bagi tulang, persendian, dan otot tubuh.

5. Berenang

Berenang juga termasuk jenis olahraga low impact, sehingga aman dilakukan oleh penderita diabetes.

Bagi mereka yang berisiko terhadap diabetes, berenang bisa memperbaiki kadar kolesterol, membakar kalori, serta menurunkan level stres

Studi yang dimuat di International Journal of Science and Research menganjurkan penderita diabetes untuk berenang setidaknya tiga kali seminggu. Mulailah dengan durasi 10 menit, lalu perlahan tingkatkan waktu latihan Anda.

Nah, setelah tahu empat cara agar Anda lebih banyak bergerak, kira-kira latihan yang mana yang ingin Anda coba? Selamat berlatih!

Tips Olahraga Untuk Diabetes

39156923452_24b1cfe03f
Photo Credit: procuramed Flickr via Compfightcc

Siapa saja yang mau mulai berolahraga pasti butuh persiapan. Mulai dari menyiapkan pakaian yang cocok untuk berolahraga, memilih sepatu yang baik, hingga menentukan jenis olahraga yang ingin dilakukan.

Nah, untuk mereka termasuk berisiko tinggi atau telah menderita diabetes tipe 2, persiapan untuk memulai kebiasaan sehat berolahraga ini membutuhkan daftar yang lebih panjang. Hal ini untuk memastikan agar Anda tetap aman dan nyaman selama berlatih.

Apa saja yang perlu Anda siapkan, simak tips olahraga untuk diabetes berikut ini:

1. Susun daftar jenis olahraga yang boleh dilakukan

Untuk pilihan olahraga, Anda sebenarnya tidak perlu harus mendaftar jadi anggota pusat kebugaran.

Ada banyak jenis olahraga yang menyenangkan dan bisa dilakukan penderita diabetes tipe 2, seperti berjalan kaki, berenang, yoga, atau menari

Intinya, cari jenis olahraga yang bisa meningkatkan denyut jantung.

2. Konsultasi dulu dengan dokter Anda

Dokter perlu tahu tentang rencana Anda berolahraga untuk menjaga kondisi kesehatan. Selain bisa membantu memilihkan jenis olahraga yang tepat, dokter akan memastikan kondisi tubuh Anda sudah cukup fit untuk berlatih

Tanyakan pada dokter, kapan waktu berolahraga paling ideal untuk kondisi Anda. Selain itu, dokter juga akan memberi saran jika Anda dianggap perlu mengubah pola makan atau obat-obatan yang harus dikonsumsi.

3. Cek kadar gula darah

Lakukan sebelum berolahraga. Kalau Anda berencana berolahraga lebih dari satu jam, pastikan periksa kadar gula darah secara berkala selama latihan. Jika diperlukan, konsumsi camilan. Setelah olahraga, cek kadar gula darah sekali lagi untuk memastikan kondisi Anda terkendali.

4. Bawa camilan

Sediakan camilan atau minuman untuk mengantisipasi gula darah Anda tiba-tiba turun.

Pastikan juga air minum tersedia cukup sehingga Anda tidak sampai mengalami dehidrasi

5. Mulai dari target kecil

Kalau selama ini Anda jarang berolahraga, jangan langsung berlatih selama satu jam. Mulailah sedikit-sedikit. Pada minggu pertama, berolahragalah selama 10 menit. Perlahan-lahan, tambah porsi waktunya hingga 30 menit sehari.

6. Jadikan kebiasaan

Jadikan olahraga sebagai salah satu bagian rutinitas Anda. Seperti halnya Anda harus makan dan minum obat teratur untuk menjaga diabetes, berolahragalah pada waktu yang sama setiap hari agar Anda terhindar dari hipoglikemia atau kadar gula darah yang rendah.

7. Bersama teman lebih menyenangkan

Kehadiran seorang teman bisa membuat Anda lebih nyaman, tenang, serta termotivasi dalam berolahraga.

Anda juga bisa menyewa pelatih pribadi yang bisa merancang jadwal latihan sesuai kondisi kesehatan

Latihan bersama pelatih pribadi dapat menghindarkan Anda dari insiden tiba-tiba serta kemungkinan cedera yang mungkin membahayakan kesehatan.

 

8. Sayangi kaki Anda

Pakai sepatu olahraga yang bagus dan sesuai dengan aktivitas olahraga yang Anda lakukan. Misalnya, jangan mengenakan sepatu basket untuk joging, karena desain sepatu untuk bermain basket berbeda dengan untuk berlari.

Periksa kondisi kaki setiap hari sebelum berolahraga, agar fit saat akan berolahraga. Hubungi dokter jika Anda mengalami gangguan pada kaki, karena hal ini bisa berdampak buruk terhadap diabetes.

9. Pahami tubuh Anda

Segeralah berhenti latihan jika Anda merasa tidak nyaman, misalnya otot-otot tiba-tiba sakit menusuk. Jangan memaksa tubuh untuk terus berlatih jika tidak sanggup, karena hal ini hanya membuat Anda jadi lebih rawan mengalami cedera.

10. Beri hadiah bagi diri sendiri

Berhasil berolahraga teratur seminggu ini? Berilah hadiah kecil bagi diri sendiri, misalnya sebuah kaus olahraga dengan warna favorit Anda. Tetapkan target-target kecil setiap bulan agar Anda selalu semangat berlatih.

Hindari menganggap turunnya berat badan sebagai salah satu bentuk “hadiah” emosional

Lebih baik berfokus pada jenis manfaat lainnya, seperti badan jadi lebih energik atau nikmatnya udara pagi saat Anda berjalan kaki.

Hati-hati Jika Punya Diabetes, 4 Gangguan Ini Harus Diwaspadai Wanita

33160066053_43ca883784
Photo Credit: EPEO Odontologia Flickr via Compfightcc

Jika Anda punya berat badan berlebih, risiko untuk terkena diabetes akan lebih tinggi. Dan, jika Anda seorang wanita, ternyata diabetes bisa membawa dampak lebih buruk dibandingkan jika diabetes diidap oleh pria.

Menurut Diabetes Atlas Edisi ke-8 yang dikeluarkan pada 2017 oleh International Diabetes Federation, 1 dari 2 orang mengidap diabetes tipe 2 tanpa pernah menyadarinya. Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional atau diabetes kehamilan berisiko lebih besar untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Dibutuhkan waktu 9-12 tahun sebelum seseorang menyadari mereka menderita diabetes. Ketika mengetahuinya, sejumlah komplikasi akibat diabetes telah mereka alami

Ada beberapa jenis komplikasi yang tingkat risikonya lebih tinggi pada wanita penderita diabetes dibandingkan pria. Ketahui apa saja komplikasinya di bawah ini:

1. Gangguan Kardiovaskular

Banyak studi menunjukkan bahwa wanita dengan diabetes memiliki risiko tiga kali lebih besar terhadap penyakit jantung dibandingkan wanita yang tidak mengidap diabetes.

Ketika seorang wanita menderita diabetes, terjadi sejumlah perubahan dalam tubuhnya, mulai dari tekanan darah meningkat, kadar kolesterol HDL atau kolesterol baik menurun, hingga lemak di bagian perut bertambah. Kondisi ini membuat wanita lebih berisiko terhadap penyakit jantung

Riset yang dimuat di European Journal of Endocrinology memaparkan bahwa wanita yang masih dalam tahap pra-diabetes juga lebih berisiko terhadap gangguan kardiovaskular.

2. Stroke

Diabetes juga bisa meningkatkan risiko terjadinya serangan stroke. Secara umum, penderita diabetes berisiko 1,5 kali lebih besar untuk mengalami stroke dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes.

Faktor jenis kelamin juga mempengaruhi risiko stroke. Wanita penderita diabetes lebih berisiko mengalami stroke dibandingkan pria penderita diabetes

Penelitian yang dimuat di jurnal The Lancet menyebutkan, tingginya risiko stroke pada wanita penderita diabetes ini terlepas dari tingginya faktor risiko penyakit lain seperti gangguan kardiovaskular. Tingginya kadar gula dalam darah membuat tubuh tidak bisa menjaga keseimbangan insulin dan kelebihan gula ini bisa berubah menjadi tumpukan lemak di dalam pembuluh darah. Bila dibiarkan, pembuluh darah pun akan menyempit sehingga stroke dapat terjadi kapan saja.

3. Gangguan Ginjal

Gangguan diabetes dapat berpengaruh terhadap pembuluh darah di dalam tubuh. Ketika pembuluh darah di daerah ginjal terganggu, ginjal tidak dapat membersihkan darah dengan optimal sehingga tubuh cenderung menahan lebih banyak air dan garam daripada yang semestinya.

Diabetes juga dapat merusak saraf-saraf dalam tubuh, termasuk yang berhubungan dengan ginjal. Tubuh sulit mengeluarkan urin dari kantung kemih dan tekanan dari kantung kemih bisa berdampak buruk terhadap ginjal. Selain itu, bila urin bertahan terlalu lama di kantung kemih, risiko terjadinya infeksi akibat bakteri semakin tinggi. Belum lagi mengingat urin penderita diabetes cenderung tinggi gula sehingga lebih rentan terhadap bakteri.

Studi yang dimuat di jurnal Nephrology memperlihatkan, wanita penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ginjal kronis dibandingkan pria penderita diabetes

Sebaiknya wanita penderita diabetes memeriksa kesehatan ginjalnya secara rutin untuk mengetahui sejauh mana perkembangan diabetes berdampak terhadap ginjal.

4. Demensia

Dibandingkan pria penderita diabetes, wanita yang menderita diabetes lebih berisiko mengalami gangguan demensia vaskular saat memasuki usia lanjut.

Riset dari Diabetes Care menyebutkan, wanita penderita diabetes tipe 2 lebih berisiko mengalami gangguan demensia vaskular dibandingkan pria penderita diabetes

Demensia vaskular adalah gangguan kognitif yang berhubungan dengan proses penalaran, penilaian, dan memori akibat terjadinya kerusakan pada otak. Demensia vaskular berkaitan erat dengan riwayat stroke akibat obesitas dan diabetes.

5. Gangguan Pola Makan

Riset menyebutkan, gangguan pola makan banyak ditemukan pada wanita. Akibatnya, wanita pun lebih rentan mengalami obesitas. Sementara itu, gangguan pola makan juga lebih banyak ditemukan di kalangan wanita penderita diabetes dibandingkan wanita yang tidak menderita diabetes.

Bulimia merupakan jenis gangguan pola makan yang umum dialami wanita penderita diabetes tipe 1, sementara pada wanita penderita diabetes tipe 2, gangguan yang umum dialami adalah makan berlebihan secara tidak terkendali

Menurut penelitian di jurnal Diabetes Care, pada penderita diabetes tipe 1, gangguan pola makan ini dapat dimulai sejak usia dini. Tingginya kecenderungan gangguan pola makan pada anak perempuan penderita diabetes tipe 1 ini bisa berlanjut hingga ia dewasa. Oleh karenanya, orang tua perlu mengenali, mencegah, dan mengatasi gangguan ini sejak dini.

Diabetes Pada Wanita Bisa Dipengaruhi Hormon, Inilah Yang Perlu Dilakukan

Dalam tubuh wanita, terdapat sejumlah hormon yang bekerja dengan aktif. Seiring pertambahan usia, hormon-hormon dalam tubuh wanita mengalami perubahan. Ketidakseimbangan hormon menjadi penyebab utama munculnya gangguan kesehatan, terutama bagi wanita.

Gangguan kesehatan yang muncul akibat ketidakseimbangan hormon dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita. Hal ini bahkan dapat terjadi tanpa wanita menyadarinya

29038586485_56622ae7e3
Photo Credit: statemutualinsurance Flickr via Compfight cc

Bagi pria maupun wanita, ketidakseimbangan hormon dapat memicu terjadinya obesitas. Dibandingkan pria, menjaga keseimbangan hormon lebih sulit bagi wanita karena level hormon-hormonnya dapat berfluktuasi secara drastis dalam beberapa fase hidupnya.

Bila wanita tidak mewaspadai fluktuasi hormon di masa berikut ini, ia dapat dengan mudah terkena diabetes:

1. Menstruasi

Perubahan hormon yang terjadi dalam kira-kira satu bulan siklus menstruasi ternyata bisa berpengaruh terhadap kadar gula darah.

Banyak wanita sulit mengontrol kadar gula darahnya sekitar seminggu sebelum menstruasi dan selama menstruasi

 Sebagian wanita dapat mengalami kenaikan kadar gula darah beberapa hari sebelum menstruasi. Begitu sudah menstruasi, sebagian wanita tetap mengalami hiperglikemia namun sebagian lainnya mengalami penurunan kadar gula darah secara drastis.

Biasakan mencatat jadwal menstruasi agar Anda bisa mengantisipasi lonjakan naik-turunnya kadar gula darah. Ketahui polanya dan diskusikan dengan dokter bagaimana strategi terbaik untuk mengantisipasinya.

2. Kontrasepsi

Kontrasepsi banyak digunakan wanita untuk mencegah serta mengatur jarak kehamilan. Namun penggunaan jenis kontrasepsi tertentu ternyata dapat berpengaruh terhadap kadar gula darah. Misalnya jenis kontrasepsi hormonal seperti pil, yang dianggap dapat membuat kadar gula darah sulit dikontrol.

Riset membuktikan, sebenarnya pil kontrasepsi termasuk aman bagi wanita penderita diabetes. Yang perlu diantisipasi adalah efek samping dari pil kontrasepsi tersebut

Efek samping dari penggunaan pil kontrasepsi, seperti kenaikan berat badan, dapat membuat wanita lebih rentan terkena diabetes maupun mengalami komplikasi yang berkaitan dengan diabetes.

Hasil studi yang dimuat di jurnal Diabetes Care menganjurkan metode kontrasepsi spiral dan implan sebagai pilihan kontrasepsi yang aman untuk wanita penderita diabetes.

3. Kehamilan

Masa kehamilan bisa memberi tantangan tersendiri bagi penderita diabetes. Oleh karenanya, sebaiknya para calon ibu melakukan perencanaan sebaik mungkin sebelum hamil.

Para calon ibu yang menderita diabetes harus memastikan kadar gula darahnya terkendali sejak sebelum hamil

Perlu diingat bahwa organ-organ janin sudah terbentuk sejak enam minggu pertama kehamilan. Jika wanita tidak merencanakan kehamilannya dengan baik dan kadar gula darahnya tidak terkendali, risiko bayi mengalami cacat lahir bisa lebih besar.

Diskusikan dengan dokter rencana kehamilan Anda dan pastikan Anda mengonsumsi multivitamin seperti asam folat setiap hari sejak tiga bulan sebelum kehamilan.

4. Menopause

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga wanita benar-benar mengalami menopause atau berhenti menstruasi. Selama itu, perubahan hormon dapat berpengaruh terhadap kadar gula darah.

Perubahan hormon ditambah naik-turunnya kadar gula darah selama masa pra-menopause bisa membuat gejala menopause yang dialami lebih berat

Bila Anda adalah penderita diabetes, pastikan mengukur kadar gula darah secara teratur. Berkonsultasilah juga dengan dokter untuk melakukan penyesuaian terhadap metode pengobatan untuk diabetes Anda. Selain itu, pastikan gejala-gejala pra-menopause, seperti perubahan mood yang tidak menentu, rasa lelah, dan hot flashes, bisa diantisipasi dengan baik.

4 Cara Ini Bisa Mencegah Diabetes Selama Kehamilan

Pregnant woman in kitchen eating a salad smiling
Photo Credit: Veritas Supermercados Flickr via Compfightcc

Masa kehamilan adalah masa yang paling membahagiakan bagi para calon ibu. Sejumlah persiapan dilakukan untuk menyambut kedatangan sang buah hati, mulai dari kamar bayi, pakaian, sampai nama. Tapi, sayangnya urusan kesehatan sering dilalaikan oleh para calon ibu ini. Beranggapan harus makan untuk dua orang, para ibu hamil pun jadi sering makan berlebihan dan tidak sehat. Akibatnya, sejumlah gangguan penyakit bisa menghampiri. Diabetes kehamilan atau diabetes gestasional adalah salah satunya.

Diabetes gestasional dipengaruhi oleh perubahan hormon di dalam tubuh calon ibu yang membuat insulin tidak bisa bekerja dengan baik. Akibatnya, kadar gula dalam darah cenderung meningkat

Para calon ibu yang memiliki berat badan berlebihan berisiko lebih tinggi mengalami diabetes kehamilan. Penelitian yang dimuat di jurnal Diabetes Care menyebutkan, memiliki indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) lebih dari 30 membuat Anda berisiko tiga kali lipat lebih besar mengalami diabetes gestasional, dibandingkan calon ibu yang BMI-nya di bawah 25.

Sebagian calon ibu akan tetap terkena diabetes kehamilan meskipun sudah menjalani gaya hidup yang sehat. Namun, sebagian lain bisa mencegahnya dengan melakukan hal-hal berikut ini:

1. Merencanakan kehamilan

Kehamilan yang terencana membuat Ibu punya waktu mempersiapkan diri, baik dari segi psikologis maupun fisik.

Turunkan berat badan yang berlebihan sebelum kehamilan dengan program penurunan berat badan yang tepat. Jangan turunkan berat badan justru saat sedang hamil.

Setiap ibu hamil, termasuk yang memiliki berat badan berlebihan, diharapkan mengalami kenaikan berat badan. Sebab, hal ini dapat berdampak positif bagi perkembangan janin di dalam kandungan.

2. Memiliki pola makan yang sehat

Konsumsi vitamin pranatal beberapa bulan sebelum hamil supaya calon ibu mendapatkan asupan gizi yang cukup. Selain itu, pastikan Anda makan berbagai jenis buah, sayuran, serta biji-bijian. Mulailah sejak sebelum hamil dan lanjutkan pola makan sehat ini selama kehamilan. Dengan begitu, kadar gula darah dapat terjaga dengan baik sepanjang kehamilan.

Jika Anda punya masalah dalam mengontrol kadar gula darah atau ingin menurunkan berat badan sebelum hamil, rencanakan menu makanan bersama dokter.

Hindari juga konsumsi pemanis buatan karena dampaknya bagi bayi dalam kandungan hingga kini masih belum dapat dipastikan. Jenis pemanis buatan yang paling banyak beredar antara lain adalah sakarin dan aspartame.

3. Tetap aktif bergerak

Siapa bilang ibu hamil tidak boleh berolahraga? Justru berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan selama hamil sekaligus mengendalikan kadar gula darah.

Menurut hasil riset dari Spanyol yang dimuat di JAMA, olahraga dengan intensitas sedang terbukti aman dan bermanfaat bagi para calon ibu serta bayinya

Berolahraga selama hamil menurut para peneliti antara lain bisa mencegah pertambahan berat badan yang berlebihan serta menurunkan risiko bayi lahir dengan ukuran lebih dari 4 kg. Selain itu, aktivitas fisik juga bisa mencegah ibu mengalami preeklampsia, diabetes gestasional, nyeri pinggang bawah, nyeri di area tulang panggul, serta inkontinensia urin. Poin plus lainnya: risiko Ibu melahirkan sesar pun ikut menurun.

4. Mengelola stres

Persiapan kehamilan serta masa kehamilan bisa membuat calon ibu mengalami stres. Padahal, stres yang berlebihan bisa membuat kadar gula darah tidak terkendali dan ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan calon ibu dan bayinya.

Studi dari University of New Mexico menyebutkan, stres yang dialami oleh para calon ibu bisa berpengaruh terhadap perkembangan fisik bayi selama di kandungan

Paparan stres, baik di masa awal maupun akhir kehamilan, bisa menghambat perkembangan bayi di dalam perut, demikian menurut studi yang dimuat di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Bayi berisiko lahir dengan ukuran kecil serta dapat mengalami gangguan perkembangan setelah lahir.